Vol. 3 — PERIHAL LUKA DAN MEMAAFKAN
Nadin Amizah dikenal lewat lirik-lirik puitis yang menyentuh hati dan suara lembut yang khas. Dengan lagu-lagu seperti Bertaut, Sorai, hingga Rayuan Perempuan Gila, ia menghadirkan pengalaman musikal yang hangat, emosional, dan penuh makna di setiap penampilannya.
Rony Parulian hadir dengan karakter vokal yang kuat dan penampilan panggung yang penuh energi. Dikenal lewat lagu-lagu seperti Tak Ada Ujungnya dan Mengapa, ia siap membawakan performa emosional yang mengajak seluruh penonton bernyanyi bersama.
HIVI! dikenal dengan warna musik pop yang hangat, ceria, dan penuh nuansa romantis. Lewat lagu-lagu seperti Remaja, Siapkah Kau 'Tuk Jatuh Cinta Lagi, dan Pelangi, mereka siap menghadirkan penampilan yang mengajak seluruh penonton bernyanyi bersama dalam suasana yang penuh kebahagiaan.
TEPE (Teguh Prakoso) adalah content creator dan streamer yang dikenal luas lewat penampilannya di program live streaming Marapthon bersama Reza Arap. Dengan gaya yang spontan, humoris, dan autentik, TEPE selalu berhasil menghadirkan hiburan yang dekat dengan penonton dan menciptakan suasana yang seru di setiap penampilannya.
Reality Club adalah salah satu band indie rock Indonesia yang dikenal lewat aransemen musik yang kaya, lirik yang emosional, dan penampilan panggung yang memikat. Dengan lagu-lagu seperti Anything You Want, Telenovia, Alexandra, dan Love Epiphany, mereka siap menghadirkan pengalaman musik yang hangat dan penuh euforia bagi para penonton.
For Revenge (sering ditulis for Revenge atau fR) adalah band post-hardcore / emo-rock asal Bandung yang dibentuk pada tahun 2006. Dikenal lewat lirik-liriknya yang emosional, puitis, dan kental dengan tema patah hati serta perayaan atas rasa sakit (sad-song anthem), For Revenge berhasil membangun basis penggemar yang sangat kuat. Musik mereka memadukan distorsi gitar yang bertenaga dengan melodi yang mudah diingat dan vokal ekspresif dari Boniex Noer.
Wijaya 80 adalah proyek musik trio bernuansa retro-pop yang dibentuk oleh Ardhito Pramono bersama Erikson Jayanto dan Hezky Joe. Mengusung estetika visual dan musik klasik era 1980-an, Wijaya 80 menyajikan aransemen pop-jazz, city pop, dan nada-nada nostalgia yang terinspirasi dari musik Indonesia era Fariz RM, Candra Darusman, hingga Krakatau. Dengan lirik yang hangat dan aransemen organik, mereka membawa pendengar bernostalgia ke masa kejayaan musik pop klasik.